<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Davidleonardopanjaitan&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Feb 2010 09:28:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='davidleonardopanjaitan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Davidleonardopanjaitan&#039;s Blog</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/osd.xml" title="Davidleonardopanjaitan&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lutung Kasarung</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/lutung-kasarung/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/lutung-kasarung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 09:28:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/lutung-kasarung/</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu ada seorang raja yang adil dan bijaksana Prabu Tapa Agung namanya. Beliau dianugrahi tujuh orang putri. Berturut-turut mereka itu adalah Purbararang, Purbadewata, Purbaendah, Purbakancana, Purbamanik, Purbaleuih, dan si bungsu Purbasari. Ketujuh putri itu sudah menikah remaja dan semuanya cantik-cantik. Yang paling cantik dan paling manis budinya adalah Purbasari. Ia menjadi buah hati seluruh rakyat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=33&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://dongeng.org/wp-content/uploads/2009/05/250px-baby_ginger_monkey-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" />Dahulu ada seorang raja yang adil dan <a title="bijaksana" href="http://dongeng.org/tag/bijaksana">bijaksana</a> Prabu Tapa Agung namanya. Beliau dianugrahi tujuh orang putri. Berturut-turut mereka itu adalah Purbararang, Purbadewata, Purbaendah, Purbakancana, Purbamanik, Purbaleuih, dan si bungsu Purbasari. Ketujuh putri itu sudah menikah remaja dan semuanya cantik-cantik. Yang paling cantik dan paling manis budinya adalah Purbasari. Ia menjadi buah hati seluruh rakyat <a title="Kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">Kerajaan</a> Pasir Batang.</p>
<p>Putri sulung Purbararang sudah bertunangan dengan Raden Indrajaya, putra salah seorang mentri <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a>. Kepada Purbararang dan Indrajayalah seharusnya Prabu Tapa Agung dapat mempercayakan <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a>. Akan tetapi, walaupun beliau sudah lanjut usia dan sudah waktunya turun tahta, beliau belum leluasa untuk menyerahkan mahkota. Karena, baik Purbararang maupun Indrajaya belum dapat beliau percaya sepenuhnya.</p>
<p>Sang Prabu merasa sebagai putri sulung, Perangai Purbararang tidak sesuai dengan yang diharapkan dari seorang pemimpin <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a>. Purbararang mempunyai sifat angkuh dan kejam, sedangkan Indrajaya adalah seorang pesolek. Bangsawan muda itu akan lebih banyak memikirkan pakaian dan perhiasan dirinya daripada mengurus keamanan dan kesejahteraan rakyat <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a>.</p>
<p>Menghadapi masalah seperti itu, Prabu Tapa Agung sering bermuram durja. Demikian pula permaisurinya, ibunda ketujuh putri itu. Mereka sering membicarakan masalah itu, tetapi tidak ada jalan keluar yang ditemukan.</p>
<p>Namun, kiranya kerisauan dan kebingungan raja yang baik itu diketahui oleh Sunan Ambu yang bersemayam di kahyangan atau Buana Pada. Pada suatu malam, ketika Prabu Tapa Agung tidur, beliau bermimpi. Di dalam mimpinya itu Sunan Ambu berkata, “Wahai Raja yang baik, janganlah risau. Sudah saatnya kamu beristirahat. Tinggalkanlah istana. Tinggalkanlah tahta kepada putri bungsu Purbasari. Laksanakanlah keinginanmu untuk jadi pertapa.”</p>
<p>Setelah beliau bangun, hilanglah kerisauan beliau. Petunjuk dari khayangan itu benar-benar melegakan hati beliau dan permaisuri.</p>
<p>Keesokan harinya sang Prabu mengumpulkan ketujuh putri beliau, pembantu, penasehat beliau yang setia, yaitu Uwak Batara Lengser, patih, para menteri dan pembesar-pembesar <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a> lainnya.</p>
<p>Beliau menyampaikan perintah Sunan Ambu dari Kahyangan bahwa sudah saatnya beliau turun tahta dan menyerahkan <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a> kepada Putri Purbasari.</p>
<p>Berita itu diterima dengan gembira oleh kebanyakan isi istana, kecuali oeh Purbararang dan Indrajaya. Mereka pura-pura setuju, walaupun didalam hati mereka marah dan mulai mencari akal bagaimana merebut tahta dari Purbasari.</p>
<p>Akal itu segera mereka dapatkan. Sehari setelah ayah bunda mereka tidak berada di istana, Purbararang dengan bantuan Indrajaya menyemburkan boreh, yaitu zat berwara hitam yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan, ke wajah dan badan Purbasari.</p>
<p>Akibatnya Purbasari menjadi hitam kelam dan orang Pasir Batang tidak mengenalinya lagi. Itulah sebabnya putri bungsu itu tidak ada yang menolong ketika diusir dari istana.</p>
<p>Tak ada yang percaya ketika dia mengatakan bahwa ia Purbasari, Ratu Pasir Batang yang baru. Di samping itu, mereka yang tahu dan menduga bahwa gadis hitam kelam itu adalah Purbasari, tidak berani pula menolong.</p>
<p>Mereka takut akan Purbararang yang terkenal kejam. Bahkan Uwak Batara Lengser tidak berdaya mencegah tindakan Purbararang itu.</p>
<p>Ketika ia disuruh membawa Purbasari ke hutan, ia menurut. Akan tetapi setiba di hutan, Uwak Batara Lengser membuatkan gubuk yang kuat bagi putri bungsu itu. Ia pun menasehatinya dengan kata-kata lembut, “Tuan Putri bersabarlah. Jadikanlah pembuangan ini sebagai kesempatan bertapa untuk memohon perlindungan dan kasih sayang para penghuni kahyangan. “Nasehat Uwak Batara Lengser itu mengurangi kesedihan Putri Purbasari. Ia setuju bahwa ia akan melakukan tapa. “Bagus, Tuan Putri. Janganlah khawatir, Uwak akan sering datang kesini menengok dan mengirim persediaan.”</p>
<p>Selagi didunia atau Buana Panca Ttengah terjadi peristiwa pengusiran dan pembuangan Purbasari kedalam hutan, di Kahyangan atau Buana Pada terjadi peristiwa lain.</p>
<p>Berhari-hari Sunan Ambu gelisah karena putranya Guruminda tidak muncul. Maka Sunan Ambu pun meminta para penghuni kahyangan baik pria maupun wanita untuk mencarinya.</p>
<p>Tidak lama kemudian seorang pujangga datang dan memberitakan bahwa Guruminda berada ditaman Kahyangan. Ditambahkan bahwa Guruminda tampak bermuram durja. Sunan Ambu meminta kepada pelayan kahyangan agar Guruminda dipanggil, diminta menghadap.</p>
<p>Agak lama Guruminda tidak memenuhi panggilan itu sehingga ia dipanggil kembali. Akhirnya dia muncul dihadapan ibundanya, Sunan Ambu.</p>
<p>Akan tetapi, ia bertingkah laku lain dari pada biasanya. Ia terus menunduk seakan-akan malu memandang wajah ibunya sendiri. Namun, kalau Sunan Ambu sedang tidak melihat, ia mencuri-curi pandang.</p>
<p>“Guruminda, anakku, apakah yang kau sedihkan?Ceritalah kepada Ibu,” ujar Sunan Ambu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Guruminda tidak menjawab. Demikian pula ketika Sunan Ambu mengulang pertanyaan beliau. Karena Sunan Ambu seorang wanita yang arif, beliau segera menyadari apa yang terjadi dengan putranya.</p>
<p>Beliau berkata, “Ibu sadar, sekarang kau sudah remaja. Usiamu tujuh belas tahun. Adakah <a title="bidadari" href="http://dongeng.org/tag/bidadari">bidadari</a> yang menarik hatimu. Katakanlah pada Ibu siapa dia. Nanti Ibu akan memperkenalkanmu kepadanya.” Untuk beberapa lama Guruminda diam saja. “Guruminda, berkatalah, “ujar Sunan Ambu.</p>
<p>Guruminda pun berkata, walaupun perlahan-lahan sekali, “Saya tidak ingin diperkenalkan dengan <a title="bidadari" href="http://dongeng.org/tag/bidadari">bidadari</a> manapun, kecuali yang secantik Ibunda,” katanya.</p>
<p>Mendengar perkataan putranya itu Sunan Ambu terkejut. Akan tetapi, sebagai wanita yang arif beliau tidak kehilangan akal apalagi marah. Beliau arif bahwa putranya sedang menghadapi persoalan. Beliau pun berkata, “Guruminda, gadis yang serupa dengan Ibunda tidak ada di Buana Pada ini. Ia berada di Buana Panca Tengah. Pergilah kamu ke sana. Akan tetapi tidak sebagai Guruminda. Kamu harus menyamar sebagai seekor kera atau lutung.”</p>
<p>Setelah Sunan Ambu berkata begitu, berubahlah Guruminda menjadi seekor kera atau lutung. “Pergilah anakku, ke Buana Panca Tengah, kasih sayangku akan selalu bersamamu. Kini namamu <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>.”</p>
<p>Guruminda sangat terkejut dan sedih ketika menyadari bahwa dia sudah menjadi lutung. Ia beranggapan bahwa ia telah dihukum oleh Ibunda Sunan Ambu karena kelancangannya. Ia cuma menunduk. “Pergilah, Anakku. Gadis, itu menunggu disana dan memerlukan bantuanmu.” ujar Sunan Ambu pula.</p>
<p>Guruminda sadar bahwa menjadi lutung adalah sudah nasibnya dan ia pun mengundurkan diri dari hadapan ibundanya. Dengan harapan akan bertemu gadis yang serupa dengan ibundanya, ia meninggalkan Buana Pada. Ia melompat dari awan ke awan hingga akhirnya tiba di bumi. Guruminda mencari tempat yang cocok untuk turun. Ketika melihat sebuah hutan, ia pun melompat ke bumi. Ia melompat dari pohon ke pohon. Lutung-lutung dan monyet-monyet mengelilinginya. Karena mereka menyadari bahwa Guruminda, yang berganti nama menjadi <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>, lebih besar dan cerdas, mereka menerimanya sebagai pemimpin. Demikianlah <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> mengembara di dalam hutan belantara, mencari gadis yang sama cantiknya dengan ibunda Sunan Ambu.</p>
<p>Tersebutlah di <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a> Pasir Batang, Ratu Purbararang hendak melaksanakan upacara. Dalam upacara itu diperlukan kurban binatang. Ratu Purbararang memanggil Aki Panyumpit. “Aki!” katanya, “Tangkaplah seekor hewan untuk dijadikan kurban dalam upacara. Kalau kamu tidak mendapatkannya nanti siang, kamu sendiri jadi gantinya.”</p>
<p>Dengan ketakutan yang luar biasa Aki Panyumpit tergesa-gesa masuk hutan belantara. Akan tetapi, tidak seekor bajingpun ia temukan. Binatang-binatang sudah diberi tahu oleh <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> agar bersembunyi. Lalu, berjalanlah Aki Panyumpit kian kemari di dalam hutan itu hingga kelelahan.</p>
<p>Ia pun duduk dibawah pohon dan menangis karena putus asa. Pada saat itulah <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> turun dari pohon dan duduk dihadapan Aki Panyumpit. Aki Panyumpit segera mengambil sumpitnya dan membidik kearah <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>.</p>
<p>Namun <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> berkata, “Janganlah menyumpit saya karena saya tidak akan mengganggumu. Saya datang kesini karena melihat kakek bersedih.”</p>
<p>Aki Panyumpit terkejut mendengar lutung dapat berbicara. “Mengapa kakek bersedih?” tanya <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>.</p>
<p>Ditanya demikian, Aki Panyumpit menceritakan apa yang dialaminya. “Kalau begitu bawalah saya ke istana,kakek,” ujar <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>.</p>
<p>“Tetapi kamu akan dijadikan kurban!” kata Aki Panyumpit yang menyukai <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>.</p>
<p>“Saya tidak rela kamu dijadikan kurban,” lanjut Aki Pannyumpit.</p>
<p>“Tetapi kalau kakek tidak berhasil membawa hewan, kakek sendiri yang akan disembelih sebagai kurban,” jawab <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>.</p>
<p>Aki Panyumpit tidak dapat berkata-kata lagi karena bingung.</p>
<p>“Oleh karena itu, bawalah saya ke istana. Janganlah khawatir,” Kata <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>.</p>
<p>“Baiklah, kalau begitu”, kata Aki Panyumpit. Mereka pun keluar dari hutan menuju <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a> Pasir Batang.</p>
<p>Setiba di alun-alun <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a>, beberapa prajurit memegang dan mengikat <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>. Prajurit lain mengasah pisau untuk menyembelihnya.</p>
<p><a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> yang sudah di ikat dibawa ketengah alun-alun. Di sana Purbararang dan Indrajaya serta para pembesar <a title="kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">kerajaan</a> sudah hadir. Demikian pula lima putri adik-adik Purbararang.</p>
<p>Saat itu segala perlengkapaan upacara sudah disiapkan. Seorang pendeta sudah mulai menyalakan kemenyan dan berdoa. Seorang prajurit dengan pisau yang sangat tajam berjalan akan melaksanakan tugasnya. Ia memegang kepala <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>. Akan tetapi, tiba-tiba <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> menggeliat.</p>
<p>Tambang-tambang ijuk yang mengikat tubuhnya satu persatu mulai putus dan kemudian Ia pun bebas. Ia lalu memporak-porandakan perlengkapan upacara. Para putri dan wanita-wanita bangsawan menjerit ketakutan. Para prajurit mencabut senjata dan berusaha membunuh <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>. Namun, tidak seorang pun sanggup mendekatinya.</p>
<p><a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> sangat lincah dan tangkas. Ia melompat- lompat kesana kemari, di tengah-tengah hadirin yang berlari menyelamatkan diri.</p>
<p><a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> sengaja merusak barang-barang dan perlengkapan. Di melompat ke panggung tempat para putri menenun dan merusak perlengkapan tenun.</p>
<p>Setelah hadirin melarikan diri dan prajurit-prajurit kelelahan, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> duduk di atas benteng yang mengelilingi halaman dalam istana .</p>
<p>Dari dalam istana, Purbararang dan adik-adiknya memandanginya dengan keheranan dan ketakutan. Indrajaya ada pula disana, ikut sembunyi dengan putri-putri dan para wanita.</p>
<p>Purbararang kemudian menjadi marah, “Bunuh! Ayo bunuh lutung itu!” teriaknya. Beberapa orang prajurit maju akan mengepung <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> lagi. Akan tetapi, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> segera menyerang mereka dan membuat mereka lari ketakutan ke berbagai arah.</p>
<p>Uwak Batara Lengser adalah orang tua yang <a title="bijaksana" href="http://dongeng.org/tag/bijaksana">bijaksana</a>, walaupun sudah tua tetap gagah berani. Ia berjalan menuju <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> dan berdiri di dekatnya. Ternyata, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> tidak memperlihatkan sikap permusuhan kepadanya. “Kemarilah Lutung, janganlah kamu nakal dan menakut-nakuti orang, kamu anak yang baik.”</p>
<p>Pada saat itu beberapa orang prajurit mencoba menyergap <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>. Namun, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> selalu waspada. Ia menyerang balik, mencakar, dan menggigit mereka. Mereka tunggang langgang melarikan diri dan tidak berani muncul kembali. Setelah itu <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> kembali kepada Uwak Batara Lengser dan seperti seorang anak yang baik, duduk didekat kaki orang tua itu.</p>
<p>Purbararang yang melihat pemandangan itu dari jauh, timbul niat jahatnya. Lutung yang besar dan jahat itu sebaiknya dikirim kehutan tempat Purbasari berada, pikirnya. Kalau Purbasari tewas diterkam lutung itu, maka ia akan tenang menduduki tahta <a title="Kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">Kerajaan</a> Pasir Batang. Cara mengirim lutung itu tampaknya dapat dilaksanakan melalui Uwak Batara Lengser karena lutung itu tidak memperlihatkan sikap permusuhan terhadap Uwak Batara Lengser.</p>
<p>Berkatalah Purbararang kepada Uwak Batara Lengser, meminta orang tua itu mendekat. Orang tua itu menurut, “Uwak Batara Lengser, singkirkan lutung galak itu kehutan. Tempatkan bersama Purbasari. Kalau sudah jinak, kita kurbankan nanti.” Uwak Batara Lengser tahu maksud Purbararang, tetapi ia menurut saja. Ia pun tidak yakin apakah lutung itu akan mencederai Purbasaari. Ia melihat sesuatu yang aneh pada lutung itu. Itulah sebabnya ia mengulurkan tangan pada lutung itu sambil berkata, “Marilah kita pergi, lutung. Kamu saya bawa ketempat yang lebih cocok bagimu.” Lutung itu menurut. Uwak Batara Lengser pun menuntunnya meninggalkan tempat itu dan menuju ke hutan.</p>
<p>Sampai di hutan, Uwak Batara Lengser berseru kepada Purbasari memberitahukan kedatangannya. Purbasari keluar dari gubuk dengan gembira. <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> melihat seorang gadis yang kulitnya hitam kelam di celup boreh. Ia tertegun sejenak sehingga Uwak Batara Lengser berkata kepadanya, “Itu Putri Purbasari. Ia gadis yang manis dan baik hati. Kamu harus menjaganya.”</p>
<p>“Ya,” kata <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>.</p>
<p>Uwak Batara Lengser dan Purbasari keheranan. Akan tetapi, Uwak Batara Lengser berkata, “Semoga kedatanganmu ke Pasir Batang dikirim Kahyangan untuk kebaikan semua.”</p>
<p>Setelah Uwak Batara Lengser pergi, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> meminta bantuan kawan-kawannya untuk mengumpulkan buah-buahan dan bunga-bungaan untuk Purbasari. Putri itu benar-benar terhibur dalam kesedihannya. Ia pun tidak kesunyian lagi. Bukan saja <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> selalu ada didekatnya, tetapi binatang-binatang lain seperti rusa, bajing, dan burung-burung berbagai jenis, berkumpul dekat gubuknya.</p>
<p>Ketika malam tiba, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> berdoa, memohon kepada Ibunda Sunan Ambu agar membantunya. Sunan Ambu mendengar doanya dan memerintahkan kepada beberapa orang pujangga dan pohaci agar turun ke bumi untuk membantu <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>.</p>
<p>Ketika para pujangga tiba dihutan itu, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> meminta kepada mereka agar dibuatkan tempat mandi bagi Purbasari. Para pujangga yang sakti itu membantu <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> membuat jamban salaka, tempat mandi dengan pancuran emas dan lantai serta dinding pualam. Airnya dialirkan dari mata air yang jernih yang ditampung dulu dalam telaga kecil. Ke dalam telaga kecil itu ditaburkan berbagai bunga-bungaan yang wangi. Sementara itu para pohaci menyiapkan pakaian bagi Purbasari. Pakaian itu bahannya dari awan dan warnanya dari pelangi. Tak ada pakaian seindah itu di bumi.</p>
<p>Keesokan harinya Purbasari sangat terkejut melihat Jamban Salaka itu. Akan tetapi, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> mengatakan kapadanya bahwa ia tidak perlu heran. Kabaikan hati Purbasari telah menimbulkan kasih sayang Kahyangan kepadanya.</p>
<p>“Jamban Salaka dan pakaian yang tersedia di dalamnya adalah hadiah dari Buana Pada bagi Tuan Putri,” kata <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a></p>
<p>“Kau sendiri adalah hadiah dari Buana Pada bagiku, Lutung,” kata Purbasari, lalu memasuki Jamban Salaka. Ternyata, air di Jamban Salaka memiliki khasiat yang tidak ada pada air biasa dipergunakan Purbasari.</p>
<p>Ketika air itu dibilaskan, hanyutlah boreh dari kulit Purbasari. Kulitnya yang kuning langsat muncul kembali bahkan lebih cemerlang. Dalam kegembiraannya, Purbasari tidak putus-putusnya mengucapkan syukur kepada Kahyangan yang telah mengasihinya.</p>
<p>Selesai mandi, ia mengambil pakaian buatan para pohaci. Ia terpesona oleh keindahan pakaian yang dilengkapi perhiasan-perhiasan yang indah. Ia pun segera mengenakannya, lalu keluar dari Jamban Salaka. ‘Lutung lihatlah!. Apakah pakaian ini cocok bagiku?”</p>
<p><a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> sendiri terpesona. Dalam hatinya ia berkata, “Putri Purbasari, engkau seperti kembaran Ibunda Sunan Ambu, hanya jauh lebih muda.”</p>
<p>“Lutung, pantaskah pakaian ini bagiku?” tanya Purbasari pula.</p>
<p>“Para pohaci mencocokkannya bagi tuan putri,” jawab <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> seraya bersyukur dalam hatinya dan memuji kebijaksanaan Ibunda Sunan Ambu.</p>
<p>Peristiwa didalam hutan itu akhirnya terdengar oleh Purbararang. Rakyat <a title="Kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">Kerajaan</a> Pasir Batang yang biasa mencari buah-buahan atau berburu kehutan membawa kabar aneh. Mereka bercerita tentang hutan yang berubah menjadi taman, tentang gubuk gadis hitam yang berubah menjadi istana kecil, tentang tempat mandi yang sangat indah, dan pimpinan seekor lutung yang sangat besar. Seekor lutung besar menyebabkan mereka tidak berani memasuki taman itu.</p>
<p>Kabar aneh itu sampai juga ke telinga Purbararang. Ia menduga ada bangsawan-bangsawan Pasir Batang yang diam-diam membantu Purbasari. Ia pun menjadi marah dan berpikir mencari jalan untuk mencelakakan Purbasari. Ia segera menemukan jalan untuk mecelakakan adik bungsunya itu.</p>
<p>Purbararang berpendapat bahwa para bangsawan Pasir Batang yang berpihak pada Purbasari tidak akan berani membantu adiknya itu secara terang-terangan. Oleh karena itu, Purbasari harus ditantang dalam pertandingan terbuka.</p>
<p>Para bangsawan dapat membuatkan Purbasari taman, istana kecil, dan Jamban Salaka. Itu mereka lakukan sembunyi-sembunyi dalam waktu yang lama, pikir Purbararang. Kalau Purbasari diharuskan membuat huma dalam satu hari seluas lima ratus depa, tak ada yang berani atau dapat membantunya. Ia sendiri dengan mudah akan dapat membuka huma ribuan depa dengan bantuan para prajurit.</p>
<p>Maka ia pun memanggil Uwak Batara Lengser dan berkata, “Uwak, berangkatlah ke hutan. Sampaikan pada Purbasari bahwa saya menantangnya berlomba membuat huma. Purbasari harus membuat huma seluas lima ratus depa dan harus selesai sebelum fajar besok. Kalau tidak dapat menyelesaikannya, atau tidak dapat mendahului saya maka ia akan dihukum pancung.”</p>
<p>Uwak Batara Lengser segera pergi kehutan. Ia disambut oleh Purbasari dan <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>. Ketika mendengar berita yang menakutkan itu, Purbasari pun menangis. ‘Kalau nasib saya harus mati muda, saya rela. Yang menyebabkan saya menangis adalah tindakan kakanda Purbararang. Begitu besarkah kebenciannya kepada saya?”</p>
<p><a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> berkata, “Jangan khawatir Tuan Putri, Kahiangan tidak akan melupakan orang yang tidak bersalah.”</p>
<p>Sementara ketiga sahabat itu sedang berbicara didalam hutan, Purbararang tidak menyia-nyiakan waktu. Ia memanggil seratus orang prajurit dan memerintahkan agar mereka membuka hutan untuk huma didekat tempat tinggal Purbasari. Huma harus selesai keesokan harinya. Kalau tidak selesai, para prajurit itu akan dihukum pancung. Para prajurit yang ketakutan segera berangkat ke hutan dan langsung bekerja keras membuka hutan. Mereka terus bekerja walaupun malam turun dan mulai gelap. Mereka terpaksa menggunakan obor yang banyak jumlahnya.</p>
<p>Sementara itu <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> mempersilahkan Purbasari masuk kedalam istana kcilnya untuk beristirahat. “Serahkanlah pekerjaan membuat huma itu kepada saya, Tuan Putri,’ katanya.</p>
<p>Ketika Purbasari sudah masuk kedalam istana kecilnya, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> segera berdoa, memohon bantuan Ibunda Sunan Ambu dari Buana Pada. Doanya didengar dan Sunan Ambu mengutus empat puluh orang pujangga untuk membuat huma. Lahan yang dipilih adalah sebidang huma yag sudah terbuka dan cocok untuk ditanami padi. Huma itu letaknya tidak jauh dari hutan yang sedang dibuka oleh prajurit-prajurit Pasir Batang.</p>
<p>Keesokan harinya ketika matahari terbit, berangkatlah rombongan dari istana Pasir Batang menuju hutan. Purbararang duduk diatas tandu yang dihiasi sutra dan permata yang gemerlapan. Sementara itu tunangannya, Indrajaya, menunggang kuda di sampingnya. Lima orang putri bersaudara ada pula dalam rombongan bersama sejumlah bangsawan. Ratusan prajurit mengawal. Tak ketinggalan seorang algojo dengan kapak besarnya. Purbararang yakin bahwa hari itu ia akan dapat menghukum pancung adiknya, Purbasari. Akan tetapi, ia dan rombongan terkejut sebab disamping huma yang dibuka para prajurit telah ada pula huma lain yang lebih bagus.</p>
<p>Di tengah huma itu berdiri Uwak Batara Lengser dan <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>. “Gusti Ratu,” kata Uwak Batara Lengser, “Inilah huma Putri Purbasari.”</p>
<p>Purbararang benar-benar kecewa, malu,dan marah. Ia berteriak, “Baik, tetapi sekarang saya menantang Purbasari bertanding <a title="kecantikan" href="http://dongeng.org/tag/kecantikan">kecantikan</a> denganku. Kalian yang menilai,” katanya seraya berpaling pada khalayak.</p>
<p>Purbararang menyangka Purbasari masih hitam kelam karena boreh. “Uwak, suruh dia keluar dari rumahnya!”</p>
<p>Uwak Batara Lengser mempersilahkan Purbasari keluar dari istana kecilnya. Purbasari muncul dan orang-orang memadangnya dengan takjub. Banyak yang lupa bernapas dan berkedip. Banyak pula yang lupa menutup mulutnya.</p>
<p>Begitu cantiknya Purbasari sehingga seorang bangsawan berkata, “Saya seakan-akan melihat Sunan Ambu turun ke Bumi.”</p>
<p>Melihat hal itu mula-mula Purbararang kecut. Akan tetapi dia ingat, bahwa dia masih punya harapan untuk menang. Ia berteriak, “Purbasari, marilah kita bertanding rambut. Siapa yang lebih panjang, dia menang. Lepas sanggulmu!” Sambil berkata begitu Purbararang berdiri dan melepas sanggulnya. Rambutnya yang hitam dan lebat terurai hingga kepertengahan betisnya.</p>
<p>Purbasari terpaksa menurut. Ia pun melepas sanggulnya. Rambutnya yang hitam berkilat dan halus bagai sutra bergelombang bagaikan air terjun hingga ketumitnya. Purbararang terpukul kembali. Akan tetapi, dia tidak kehabisan akal. Ia ingat bahwa ia mempunyai pinggang yang sangat ramping.. Ia berkata, “Lihat semua. Ikat pinggang yang kupakai ini bersisa lima lubang. Kalau Purbasari menyisakan kurang dari lima lubang, ia dihukum pancung.” Seraya berkata begitu ia melepas ikat pinggang emas bertahta permata dan melemparkannya kepada Purbasari. Purbasari memakainya dan ternyata tersisa tujuh lubang<br />
.<br />
Sekarang Purbararang menjadi kalap. Ia berteriak, “Hai orang-orang Pasir Batang, masih ada satu pertandingan yang tidak mungkin dimenangkan oleh Purbasari. Pertandingan apa itu? Coba tebak!” katanya seraya melihat wajah-wajah bangsawan Pasir Batang yang berdiri didekatnya. Ia tertawa karena yakin ia akan menang dalam pertandingan terakhir ini.</p>
<p>“Pertandingan apa, Kakanda?” kata salah seorang di antara adiknya.</p>
<p>Purbararang tersenyum. “Dengarkan!” katanya pula, “Dalam pertandingan ini kalian harus membandingkan siapa di antara calon suami kami yang lebih tampan. Lihat kepada tunangan saya, Indrajaya. Bagaimana pendapat kalian? Tampankah ia?”</p>
<p>Untuk beberapa lama tidak ada yang menjawab. Mereka bingung dan terkejut. Purbararang membentak, “Jawab! Tampankah dia?” Orang-orang menjawab, “Tampan, Gusti Ratu!” Purbararang tidak puas, “Lebih nyaring!”</p>
<p>“Tampan Gusti Ratu!”</p>
<p>Sambil tersenyum Purbararang melihat kearah Purbasari yang berdiri dekat Uwak Batara Lengser dan <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>. “Dengarkanlah, Purbasari. Sekarang kamu tidak bisa lolos. Kita akan bertanding membandingkan ketampanan calon suami. Calon suamiku adalah Indrajaya yang tampan dan gagah itu. Siapakah calon suamimu itu?” Purbasari kebingungan. “Siapa lagi calon suamimu kecuali lutung besar itu?” teriak Purbararang seraya menunjuk ke arah <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>. Lalu ia tertawa.</p>
<p>Purbasari terdiam. Ia memandang ke arah <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a>. Semuanya terdiam. Algojo melangkah ke arah Purbasari seraya memutar-mutar kapaknya yang lebar dan tebal. Seraya memandang ke arah <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> dan sambil tersenyum sayu Purbasari berkata, “Memang seharusnya kamu menjadi calon suamiku, Lutung.”</p>
<p>Mendengar apa yang diucapkan Purbasari itu gembiralah Purbararang. Sekarang ia dapat membinasakan Purbasari. Akan tetapi, sesuatu terjadi. Mendengar perkataan Purbasari itu, <a title="Lutung Kasarung" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/lutung-kasarung.html">Lutung Kasarung</a> berubah, kembali ke asalnya sebagai Guruminda yang gagah dan tampan. Semua terheran-heran dan terpesona oleh ketampanan Guruminda. Guruminda sendiri memegang tangan Purbasari dan berkata, “Ratu kalian yang sebenarnya, Purbasari, telah mengatakan bahwa saya sudah seharusnya menjadi calon suaminya. Sebagai calon suaminya, saya harus melindungi dan membantunya. Tahtanya telah direbut oleh Purbararang. Sebagai tunangan Purbararang, Anda harus berada di pihaknya, Indrajaya. Oleh karena itu, marilah kita berperang tanding.”</p>
<p>Indrajaya bukannya siap berperang tanding, tetapi malah berlutut dan menyembah kepada Guruminda, mohon ampun dan dikasihani. Purbararang menangis dan minta maaf kepada Purbasari. Sementara itu para bangsawan dan prajurit serta rakyat justru bergembira. Mereka akan bebas dari ketakutan dan tekanan para pendukung Purbararang.</p>
<p>Pada hari itu juga Ratu purbasari kembali ke <a title="Kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">Kerajaan</a> didampingi oleh suaminya, Guruminda. Purbararang dan Indrajaya dihukum dan dipekerjakan sebagai tukang sapu di taman istana. Rakyat merasa lega. Mereka kembali bekerja dengan rajin seperti di jaman pemerintahan Prabu Tapa Agung. Berkat bantuan Guruminda, Purbasari memerintah dengan cakap dan sangat <a title="bijaksana" href="http://dongeng.org/tag/bijaksana">bijaksana</a>. Rakyat <a title="Kerajaan" href="http://dongeng.org/tag/kerajaan">Kerajaan</a> Pasir Batang merasa terlindungi, suasana aman dan tentram sehingga mereka bisa bekerja dengan tenang pada akhirnya kemakmuran dapat mereka peroleh secara nyata dan merata.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=33&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/lutung-kasarung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dongeng.org/wp-content/uploads/2009/05/250px-baby_ginger_monkey-150x150.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Legenda Ular n&#8217;Daung</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/legenda-ular-ndaung/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/legenda-ular-ndaung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 09:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Legenda Ular n’Daung ular Dahulu kala, di kaki sebuah gunung di daerah Bengkulu hiduplah seorang wanita tua dengan tiga orang anaknya. Mereka sangat miskin dan hidup hanya dari penjualan hasil kebunnya yang sangat sempit. Pada suatu hari perempuan tua itu sakit keras. Orang pintar di desanya itu meramalkan bahwa wanita itu akan tetap sakit apabila [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=31&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h3></h3>
<p><img src="http://dapurhosting.com/afiliasi/scripts/imp.php?a_aid=b5cc6c8f&amp;a_bid=9bd5e358&amp;chan=dongeng" alt="" width="1" height="1" /></div>
<div>
<h1>Legenda Ular n’Daung</h1>
</div>
<div></div>
<div>
<div>
<div id="article_loader_149">
<div>
<div></div>
</div>
</div>
</div>
<div>
<div id="gdr_text_a149"></div>
</div>
</div>
<div id="attachment_150"><img title="ular" src="http://dongeng.org/wp-content/uploads/2009/04/ular-150x150.gif" alt="ular" width="150" height="150" />ular</p>
</div>
<p>Dahulu kala, di kaki sebuah <a title="gunung" href="http://dongeng.org/tag/gunung">gunung</a> di daerah <a title="Bengkulu" href="http://dongeng.org/tag/bengkulu">Bengkulu</a> hiduplah seorang wanita tua dengan tiga orang anaknya. Mereka sangat miskin dan hidup hanya dari penjualan hasil kebunnya yang sangat sempit. Pada suatu hari perempuan tua itu sakit keras.</p>
<p>Orang pintar di desanya itu meramalkan bahwa wanita itu akan tetap sakit apabila tidak diberikan obat khusus. Obatnya adalah daun-daunan hutan yang dimasak dengan bara gaib dari puncak <a title="gunung" href="http://dongeng.org/tag/gunung">gunung</a>.</p>
<p>Alangkah sedihnya keluarga tersebut demi mengetahui kenyataan itu. Persoalannya adalah bara dari puncak <a title="gunung" href="http://dongeng.org/tag/gunung">gunung</a> itu konon dijaga oleh seekor ular gaib. Menurut cerita penduduk desa itu, ular tersebut akan memangsa siapa saja yang mencoba mendekati puncak <a title="gunung" href="http://dongeng.org/tag/gunung">gunung</a> itu.</p>
<p>Diantara ketiga anak perempuan ibu tua itu, hanya si bungsu yang menyanggupi persyaratan tersebut. Dengan perasaan takut ia mendaki <a title="gunung" href="http://dongeng.org/tag/gunung">gunung</a> kediaman si Ular n’Daung. Benar seperti cerita orang, tempat kediaman ular ini sangatlah menyeramkan. Pohon-pohon sekitar gua itu besar dan berlumut. Daun-daunnya menutupi sinar matahari sehingga tempat tersebut menjadi temaram.</p>
<p>Belum habis rasa khawatir si Bungsu, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dan raungan yang keras. Tanah bergetar. Inilah pertanda si Ular n’Daung mendekati gua kediamannya. Mata ular tersebut menyorot tajam dan lidahnya menjulur-julur. Dengan sangat ketakutan si Bungsu mendekatinya dan berkata, “Ular yang keramat, berilah saya sebutir bara gaib guna memasak obat untuk ibuku yang sakit. Tanpa diduga, ular itu menjawab dengan ramahnya, “bara itu akan kuberikan kalau engkau bersedia menjadi isteriku!”</p>
<p>Si Bungsu menduga bahwa perkataan ular ini hanyalah untuk mengujinya. Maka iapun menyanggupinya. Keesokan harinya setelah ia membawa bara api pulang, ia pun menepati janjinya pada Ular n’Daung. Ia kembali ke gua puncak <a title="gunung" href="http://dongeng.org/tag/gunung">gunung</a> untuk diperisteri si ular.</p>
<p>Alangkah terkejutnya si bungsu menyaksikan kejadian ajaib. Yaitu, pada malam harinya, ternyata ular itu berubah menjadi seorang ksatria tampan bernama <a title="Pangeran" href="http://dongeng.org/tag/pangeran">Pangeran</a> Abdul Rahman Alamsjah.</p>
<p>Pada pagi harinya ia akan kembali menjadi ular. Hal itu disebabkan oleh karena ia disihir oleh pamannya menjadi ular. Pamannya tersebut menghendaki kedudukannya sebagai calon raja.</p>
<p>Setelah kepergian si bungsu, ibunya menjadi sehat dan hidup dengan kedua kakaknya yang sirik. Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi dengan si Bungsu. Maka merekapun berangkat ke puncak <a title="gunung" href="http://dongeng.org/tag/gunung">gunung</a>. Mereka tiba di sana diwaktu malam hari.</p>
<p>Alangkah kagetnya mereka ketika mereka mengintip bukan ular yang dilihatnya tetapi lelaki tampan. Timbul perasaan iri dalam diri mereka. Mereka ingin memfitnah adiknya.</p>
<p>Mereka mengendap ke dalam gua dan mencuri kulit ular itu. Mereka membakar kulit ular tersebut. Mereka mengira dengan demikian ksatria itu akan marah dan mengusir adiknya itu. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya. Dengan dibakarnya kulit ular tersebut, secara tidak sengaja mereka membebaskan <a title="pangeran" href="http://dongeng.org/tag/pangeran">pangeran</a> itu dari <a title="kutukan" href="http://dongeng.org/tag/kutukan">kutukan</a>.</p>
<p>Ketika menemukan kulit ular itu terbakar, <a title="pangeran" href="http://dongeng.org/tag/pangeran">pangeran</a> menjadi sangat gembira. Ia berlari dan memeluk si Bungsu. Di ceritakannya bahwa sihir pamannya itu akan sirna kalau ada orang yang secara suka rela membakar kulit ular itu.</p>
<p>Kemudian, si Ular n’Daung yang sudah selamanya menjadi <a title="Pangeran" href="http://dongeng.org/tag/pangeran">Pangeran</a> Alamsjah memboyong si Bungsu ke istananya. Pamannya yang jahat diusir dari istana. Si Bungsu pun kemudian mengajak keluarganya tinggal di istana. Tetapi dua kakaknya yang sirik menolak karena merasa malu akan perbuatannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=31&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/legenda-ular-ndaung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dapurhosting.com/afiliasi/scripts/imp.php?a_aid=b5cc6c8f&#38;a_bid=9bd5e358&#38;chan=dongeng" medium="image" />

		<media:content url="http://dongeng.org/wp-content/uploads/2009/04/ular-150x150.gif" medium="image">
			<media:title type="html">ular</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malin Kundang</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/malin-kundang/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/malin-kundang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 09:21:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/malin-kundang/</guid>
		<description><![CDATA[Malin Kundang Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=30&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_19"><img title="malin-kundang" src="http://dongeng.org/wp-content/uploads/2009/04/malin-kundang-150x150.jpg" alt="Malin Kundang" width="150" height="150" />Malin Kundang</p>
</div>
<p><a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> adalah cerita rakyat yang berasal dari provinsi <a title="Sumatra Barat" href="http://dongeng.org/tag/sumatra-barat">Sumatra Barat</a>, Indonesia. Legenda <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> berkisah tentang seorang anak yang <a title="durhaka" href="http://dongeng.org/tag/durhaka">durhaka</a> pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di <a title="pantai" href="http://dongeng.org/tag/pantai">pantai</a> Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a>.</p>
<p>Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.</p>
<p>Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.</p>
<p>Awalnya Ibu <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.</p>
<p>Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.</p>
<p><a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah <a title="pantai" href="http://dongeng.org/tag/pantai">pantai</a>. Dengan tenaga yang tersisa, <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> berjalan menuju ke desa yang terdekat dari <a title="pantai" href="http://dongeng.org/tag/pantai">pantai</a>. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.</p>
<p>Berita <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a>. Ibu <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.</p>
<p>Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> beserta istrinya.</p>
<p>Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a>. “<a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a>, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a>. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.</p>
<p>Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak <a title="durhaka" href="http://dongeng.org/tag/durhaka">durhaka</a>. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a>. Setelah itu tubuh <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu <a title="Malin Kundang" href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/malin-kundang-si-anak-durhaka.html">Malin Kundang</a> masih dapat dilihat di sebuah <a title="pantai" href="http://dongeng.org/tag/pantai">pantai</a> bernama <a title="pantai" href="http://dongeng.org/tag/pantai">pantai</a> Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=30&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/malin-kundang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dongeng.org/wp-content/uploads/2009/04/malin-kundang-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">malin-kundang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batu Golok</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/batu-golok/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/batu-golok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 09:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/batu-golok/</guid>
		<description><![CDATA[Batu Golog Oktober 29, 2008 pada 9:28 pm (Cerita Rakyat) Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing di Nusa Tenggara Barat hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi. Kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=29&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a title="Taut Tetap ke Batu Golog" rel="bookmark" href="http://legendakita.wordpress.com/2008/10/29/batu-golog/">Batu Golog</a></h2>
<p>Oktober 29, 2008 pada 9:28 pm									(<a title="Lihat seluruh tulisan dalam Cerita Rakyat" rel="category tag" href="http://id.wordpress.com/tag/cerita-rakyat/">Cerita Rakyat</a>)</p>
<p>Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing di Nusa Tenggara Barat hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain</p>
<p>Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi.</p>
<p>Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.</p>
<p>Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: “Ibu batu ini makin tinggi.” Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, “Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk.”</p>
<p>Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.</p>
<p>Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.</p>
<p>Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya. Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.</p>
<p>Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=29&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/batu-golok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sangkuriang</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/sangkuriang/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/sangkuriang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/sangkuriang/</guid>
		<description><![CDATA[Jawa Barat Sangkuriang Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang  anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu. Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya. Pada suatu hari Tumang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=13&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="7" width="99%">
<tbody>
<tr>
<td width="46%"><span style="font-family:Verdana;color:#800040;"><img src="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/gunung.JPG" alt="gunung.JPG (7283 bytes)" width="200" height="240" /></span></td>
<td width="54%"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;"><big><big><big>Jawa Barat</big></big></big></span></span><br />
<big><big><big><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Sangkuriang</span></big></big></big><br />
<span style="font-family:Book Antiqua;color:#800040;"><br />
</span><a href="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar1.ram"><em><span style="font-family:Verdana;color:#29816d;"> <img src="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" border="0" alt="spkr.gif (282 bytes)" width="32" height="27" /></span></em></a><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di         Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang  anak laki-laki yang diberi nama         Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu. </span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a href="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar2.ram"><em><span style="font-family:Verdana;color:#29816d;"> <img src="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" border="0" alt="spkr.gif (282 bytes)" width="32" height="27" /></span></em></a><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Ia     berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu,     bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya. </span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Pada suatu hari Tumang tidak mau     mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam     hutan.</span></p>
<p><a href="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar3.ram"><em><span style="font-family:Verdana;color:#29816d;"> <img src="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" border="0" alt="spkr.gif (282 bytes)" width="32" height="27" /></span></em></a><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian     itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa     sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang     terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembara.</span></p>
<p><a href="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar4.ram"><em><span style="font-family:Verdana;color:#29816d;"> <img src="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" border="0" alt="spkr.gif (282 bytes)" width="32" height="27" /></span></em></a><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali     dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa     memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan  memiliki kecantikan abadi. </span></p>
<p><a href="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar5.ram"><em><span style="font-family:Verdana;color:#29816d;"> <img src="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" border="0" alt="spkr.gif (282 bytes)" width="32" height="27" /></span></em></a><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya     berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah     total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi.     Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya.  Oleh karena     pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya. </span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Pada suatu hari Sangkuriang minta     pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah     terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis     seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata     wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Maka kemudian ia mencari daya upaya     untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia     meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk     membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah     dipenuhi sebelum fajar menyingsing.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Malam itu Sangkuriang melakukan     tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan     pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan     itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah     di sebelah timur kota.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Ketika menyaksikan warna memerah di     timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan     pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang     diminta Dayang Sumbi.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;color:#800040;">Dengan kekuatannya, ia menjebol     bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian     menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung     yang bernama &#8220;Tangkuban Perahu.&#8221; </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=13&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/sangkuriang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar1.ram" length="74" type="audio/x-pn-realaudio" />
<enclosure url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar2.ram" length="74" type="audio/x-pn-realaudio" />
<enclosure url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar3.ram" length="74" type="audio/x-pn-realaudio" />
<enclosure url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar4.ram" length="74" type="audio/x-pn-realaudio" />
<enclosure url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/jabar5.ram" length="74" type="audio/x-pn-realaudio" />
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/budaya_bangsa/cerita_rakyat/gunung.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">gunung.JPG (7283 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" medium="image">
			<media:title type="html">spkr.gif (282 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" medium="image">
			<media:title type="html">spkr.gif (282 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" medium="image">
			<media:title type="html">spkr.gif (282 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" medium="image">
			<media:title type="html">spkr.gif (282 bytes)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/real.gif" medium="image">
			<media:title type="html">spkr.gif (282 bytes)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Suku Batak</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-suku-batak/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-suku-batak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-suku-batak/</guid>
		<description><![CDATA[Asal Usul Suku Batak Namaku Rido Parulian Panjaitan. Asal muasal kata Panjaitan dalam namaku adalah karena Bapakku adalah suku Batak yang bermarga Panjaitan, jadi sebagai kaum patrilinial yang baik maka aku juga menyandang marga Panjaitan. Trus, bagaimana sebenarnya asal muasal suku Batak? Bahkan ada orang yang bertanya-tanya adakah kaitannya antara asal muasal suku Batak dengan kemampuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=12&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a title="Permanent Link: Asal Usul Suku Batak" rel="bookmark" href="http://ridothegreat.wordpress.com/2008/05/14/asal-usul-suku-batak/">Asal Usul Suku Batak</a></h2>
<p>Namaku Rido Parulian Panjaitan. Asal muasal kata Panjaitan dalam namaku adalah karena Bapakku adalah suku Batak yang bermarga Panjaitan, jadi sebagai kaum patrilinial yang baik maka aku juga menyandang marga Panjaitan.</p>
<p>Trus, bagaimana sebenarnya asal muasal suku Batak? Bahkan ada orang yang bertanya-tanya adakah kaitannya antara asal muasal suku Batak dengan kemampuan mereka dalam mendominasi sektor transportasi darat Indonesia umumnya dan Jakarta khususnya? (jadi supir maksudnya…) hehehe…</p>
<p>Maka beginilah ceritanya:</p>
<p>Sebenarnya beberapa versi menghiasi sejarah tentang asal usul suku Batak. Singkatnya salah satu versi itu dapat dijelaskan begini (ini serius loh):</p>
<p>Suku Batak itu berasal dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, daerah pinggiran Danau Toba, lebih kurang delapan kilometer arah barat Pangururan, Kabupaten Toba Samosir.</p>
<p>Namun kalo itu tidak cukup, maka beginilah penjelasannya (ini juga serius loh):</p>
<p>Suku bangsa Batak itu adalah Proto Malayan, sama seperti suku bangsa Toraja. Mungkin ini adalah salah satu jawaban kok beberapa bahasa Toraja itu mirip dengan bahasa Batak.  Sedangkan Neo Malayan itu turunannya adalah suku-suku bangsa Jawa, Bugis, Aceh, Minangkabau, Sunda, Madura dan sebagainya.</p>
<p>Jadi gitu, Suku bangsa Batak itu awalnya adalah salah satu suku dari Proto Malayan yang bermukim di pegunungan perbatasan Burma (Myanmar sekarang) dan Siam (Thailand sekarang). Selama ribuan tahun lamanya suku bangsa Batak itu bertempat tinggal dengan suku bangsa Proton Malayan lainnya, seperti Karen, Igorot, Toraja, Bontoc, Ranau, Meo, Tayal dan Wajo. Bayangkan betapa bosannya selama ribuan tahun hidup di gunung terus. Gak ada tv, gak ada mal, apalagi artis. Hanya ada pepohonan dan bebatuan. Kriik.. krikk.. krikk… sepi….</p>
<p>Zaman dulu suku-suku Proto Malayan itu orangnya <em>gak gaul</em>, gak mau berhubungan dengan dunia luar. Mereka setia tinggaI di pegunungan. Kemungkinan besar mereka gak pernah piknik ke pantai. Hehe.. Ini berbeda sekali dengan suku-suku Neo Malayan.  Suku-suku Neo Malayan lebih suka tinggal di tepi laut atau tanah datar terbuka. Sama seperti Dono, Kasino, Indro yang difilm-flmnya pasti ada saja adegan pergi ke pantai.</p>
<p>Tapi semua itu berakhir. Si Suku-suku Proto Malayan terpaksa berhenti menutup diri di pegunungan itu. Karena sekitar tahun 1000 Sebelum Masehi (SM), suku bangsa Mongol datang menyerang dan terpaksalah mereka kabur ke selatan, sepanjang sungai-sungai Irawady, Salween, serta Mekong.</p>
<p>Udah itu,, mereka gak cuma didesak oleh si suku-suku mongol itu. Ternyata mereka juga didesak bangsa Syan yang bukan Proto Malayan, tapi Palae Mongoloid. Jadinya sebagian besar suku-suku Proto Malayan itu terdesak sampai ke tepi laut di teluk Martaban (kasian nenek moyang ku..). Hilanglah sifat-sifat <em>kuper</em> yang mereka gemari.</p>
<p>Nah.. sekarang mereka sudah tinggal di tepi laut. Tentunya sekarang mereka sudah bisa piknik ke pantai…(Yeeee…) Di tepi laut, kebudayaan Proto Malayan ini jadinya mulai kecampur dengan budaya Hindu (bahasa kerennya terakulturasi), Ini juga mempengaruhi bahasanya. Seperti contohnya dalam bahasa Batak, istilah-istilah seperti debata, singa, surgo, batara dan mangaraja.</p>
<p>Tapi emang dasar orang gunung, Suku-suku proto Malayan tentunya kurang senang bertempat tinggal di tepi laut. Terlalu banyak orang asing yang harus diperhitungkan.</p>
<p>” Bihkskh jhk, lkjajs jjasj dfre dafed laisf, jkansajk ahbjks fdljfl sfjdklj dnflk! Dsdnk- dsdnk cgruu neianh hula hrifsj thanydioi… <em>Oringh.. Oringh..</em> ajsklaj ;kl; nklklj jklj skjd. Bajk hjaksd kla!” tutur salah seorang pria Proto Malayan sambil menggaruk-garuk pantatnya yang baru saja digigit kepiting laut.</p>
<p>Jika diterjemahkan menjadi: ”Busset daah, males banget gw di tepi laut, mana banyak orang banget di sini! Lama-lama cabut jg gw.. <em>Oringh</em>.. <em>Oringh</em>.. Mana lagi bini’ gw. Bikinin kopi sono!”</p>
<p>Mereka murung. Sedih. Mereka gak tahan lagi menanggung derita ini. Beberapa orang bahkan sampai mencoba bunuh diri dengan cara menusuk-nusukan capit kepiting ke ketek kiri mereka, sebab konon katanya mereka percaya bahwa letak jantung adalah di ketek kiri. Hehe…</p>
<p>Ini sangat menyakitkan… Gak ada lagi tempat terisolasi seperti mereka biasanya. Mereka gak tahan lagi. Lalu mereka memberanikan diri mengambil resiko, menyeberangi lautan mencari tempat tertutup.</p>
<p>Suku-suku dari Proto Malayan pun akhirnya terpisah-pisah. Suku-suku bangsa Proto Malayan yang kecil-kecil, banyak yang melancong dan akhirnya menetap di Filipina. Di situ mereka membentuk komunitas baru  dan buka bisnis togel… (hehe.. gaklah). Disana mereka menolak agama Islam dan agama Katholik. Padahal 90 persen orang Filipina, yang suku-sukunya Neo Malayan, beragama Islam dan agama Katholik, seperti suku Tagalog.</p>
<p>Ada juga yang ke Taiwan. Suku bangsa Tayal pergi ke puncak-puncak gunung di Taiwan sejak 3.000 tahun lalu sampai sekarang (Jangan-jangan mereka itu leluhur F4 yang di serial meteor garden. Hehe) Mereka tidak ambil pusing bahwa tanah-tanah datar di tepi pantai Taiwan, silih berganti direbut Cina, Belanda, Cina, Jepang dan Cina lagi.</p>
<p>”Jkjg jklj ljklj hhs, hha akhcu jh, hkau jhj gkh! Hkhs auhi jo seeeept… seeept seept… seept.. (Lo mau perang kek, mau ngapain kek. Gw kagak peduli! Terserah lo dah booss… booos.. boos… boos…)” teriak mereka dari gunung sambil menyaksikan tanah datar di tepi pantai Taiwan direbut silih berganti.</p>
<p>Sejak 3.000 tahun di Taiwan mereka menolak segala macam agama. Tetapi sesudah Perang Dunia II mereka mulai mau menerima Kristen dari pendeta-pendeta Kanada, yang membawa ilmu kesehatan modern.</p>
<p>Suku bangsa Toraja mendarat di Sulawesi. Di situ mereka selama 3.000 tahun hingga sekarang kontra dengan suku-suku bangsa Bugis dan Makasar, yang adalah Neo Malayan. Mereka berantem mulu (udah mirip Israel-Palestina aja yak…). Agama Islam sekitar 400 tahun sudah diterima Bugis dan Makasar. Tetapi suku Toraja gak mau. Tapi pas abad XX suku bangsa Toraja mau menerima Protestan Calvinist dari pendeta-pendeta Belanda.</p>
<p>Sementara suku Karen tetap bertahan di pegunungan Burma. Sampai sekarang juga berantem terus dengan suku bangsa Burma yang membentuk Republik Burma. Suku bangsa Karen tetap menolak agama Budha, yang dianut orang-orang Burma dan Siam. suku bangsa Karen sejak abad ke-XIX menerima agama Kristen/British Baptists dari pendeta-pendeta Inggris.</p>
<p>Sedangkan suku bangsa Ranau mendarat di Sumatera Barat, lalu selama 2.500 tahun berkurung di sekitar Danau Ranau. Lepas dari segala pengaruh kerajaan Sriwijaya, kerajaan Darmasraya, dan apa saja yang timbul dan lenyap di Sumatera Selatan. Tapi sekitar tahun 1550 suku bangsa Ranau ditaklukkan kesultanan Banten, yang membutuhkan sekitar Danau Ranau untuk penanaman merica untuk ekspor. Nah, Tulisannya si suku bangsa Ranau inilah yang paling dekat ke tulisan Batak. Sedangkan bahasa Igorot (di Filipina) itulah bahasa terdekat dengan bahasa Batak.</p>
<p>Lalu bagaimana nasib si suku bangsa Batak, nenek moyangku? Tenang-tenang… ternyata mereka mendarat di pantai Barat pulau Sumatera. Di situ suku bangsa Batak terpecah menjadi beberapa gelombang (gelombang radio tidak termasuk). Gelombang pertama berlayar terus dan mendarat di pulau-pulau Simular, Nias, Batu, Mentawai, Siberut sampai ke Enggano (Sumatera Selatan).</p>
<p>Gelombang kedua mendarat di muara sungai Simpang, sekarang Singkil. Mereka bergerak sepanjang sungai Simpang Kiri dan menetap di Kutacane. Dari situ mereka menduduki seluruh pedalaman Aceh. Itulah yang menjadi orang-orang Gayo, dan Alas.</p>
<p>Sementara gelombang ketiga mendarat di muara Sungai Sorkam, antara Barus dan Siboga. Memasuki pedalaman daerah yang sekarang dikenal sebagai Doloksanggul dan belakangan menetap di kaki Gunung Pusuk Buhit (2005 meter), di tepi danau Toba sebelah barat, sekarang di seberang Pangururan. Dari situ berkembang dan akhirnya menduduki tanah Batak yang sekarang, antara Aceh dan Minangkabau, antara Samudera Hindia dan Selat Malaka. Jadi begitulah garis beras (eh, besar) dari migrasinya suku bangsa Batak.</p>
<p>Begitu ceritanya…</p>
<p>Tapi ada juga versi lainnya yang mengatakan Suku Batak berasal dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba. Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan, pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang Tamil di Barus. Pada tahun 1275 Mojopahit menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar tahun 1.400 kerajaan Nakur berkuasa di sebelah timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=12&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-suku-batak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedahsyatan dan Kengerian Hari Kiamat</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/kedahsyatan-dan-kengerian-hari-kiamat/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/kedahsyatan-dan-kengerian-hari-kiamat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/kedahsyatan-dan-kengerian-hari-kiamat/</guid>
		<description><![CDATA[KEDAHSYATAN DAN KENGERIAN HARI KIAMAT Abul-Laits dengan sanadnya meriwayatkan dari Aisyah r.a. berkata: &#8220;Saya tanya kepada Rasullullah s.a.w., Apakah yang cinta itu ingat pada kekasihnya pada hari kiamat?&#8221; Jawab Rasullullah s.a.w.: &#8220;Adapun ditiga tempat (masa) maka tidak ingat iaitu ketika ditimbang amal sehingga diketahui apakah ringan atau berat, ketika menerima lembaran catatan amal (suhuf) sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=10&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family:Book Antiqua;color:#ff00ff;font-size:small;">KEDAHSYATAN DAN KENGERIAN HARI KIAMAT</span></strong></p>
<p><span style="font-size:small;"><img src="http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/linebunga.gif" border="0" alt="" width="448" height="23" /></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Abul-Laits dengan sanadnya meriwayatkan dari Aisyah r.a. berkata: &#8220;Saya tanya kepada <span style="color:#0000ff;">Rasullullah s.a.w.</span>, Apakah yang cinta itu ingat pada kekasihnya pada hari kiamat?&#8221; Jawab <span style="color:#0000ff;">Rasullullah s.a.w.</span>: &#8220;Adapun ditiga tempat (masa) maka tidak ingat iaitu ketika ditimbang amal sehingga diketahui apakah ringan atau berat, ketika menerima lembaran catatan amal (suhuf) sehingga ia terima <em><span style="color:#ff0000;">imma</span></em> dari kanan atau dari kiri dan ketika keluar dari neraka ular naga lalu mengepung mereka dan berkata &#8220;Aku diserahi tiga macam: Orang mempersekutukan <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> dengan lain Tuhan, dan orang yang kejam, penentang, zalim dan orang yang tidak percaya pada hari kiamat (hisab), maka diringkus semua orang-orang yang tersebut itu lalu dilemparkan semuanya dalam neraka jahannam, dan diatas neraka jahannam itu ada jambatan yang lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang, sedang dikanan kirinya bantolan dan duri-duri, sedang orang-orang yang berjalan diatasnya ada yang bagaikan kilat, dan bagaikan angin kencang, maka ada yang selamat, dan ada yang luka terkena bantolan duri, dan ada yang terjerumus muka kedalam neraka.&#8221;</strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: <span style="color:#0000ff;">Rasullullah s.a.w.</span> bersabda: &#8220;Diantara dua kali tiupan sangkakala itu jarak empat puluh tahun (Tiupan untuk mematikan dan membangkitkan semula). Kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> menurunkan hujan air bagaikan mani orang lelaki, maka timbullah orang-orang mati bagaikan timbulnya tanaman (sayur-sayuran).&#8221;</strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Abul-Laits juga telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: <span style="color:#0000ff;">Rasullullah s.a.w.</span> bersabda: &#8220;Ketika <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>telah selesai menjadikan langit dan bumi, <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>menjadikan sangkakala dan diserahkan kepada Malaikat Israfil, maka ia meletakkannya dimulutnya melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintahkan.&#8221; Saya bertanya: &#8220;Ya <span style="color:#0000ff;">Rasullullah</span>, apakah shur (sangkakala) itu?&#8221; Jawab <span style="color:#0000ff;">Rasullullah s.a.w.</span>: &#8220;Bagaikan tanduk dari cahaya.&#8221; Saya bertanya lagi: &#8220;Bagaimana besarnya?&#8221; <span style="color:#0000ff;">Rasullullah s.a.w.</span> menjawab: &#8220;Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutuskanku sebagai <span style="color:#0000ff;">Nabi s.a.w. </span>besar bulatannya itu seluas langit dengan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali iaitu pertama <em><span style="color:#ff0000;">Nafkhatul faza&#8217; </span></em>(untuk menakutkan), <em><span style="color:#ff0000;">Nafkhatus sa&#8217;aq </span></em>(untuk mematikan) dan <em><span style="color:#ff0000;">Nafkhatul ba&#8217;ats </span></em>(untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).&#8221;</strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong> <span style="font-family:Book Antiqua;"> Dalam riwayat Ka&#8217;ab hanya dua kali tiupan, iaitu mematikan dan membangkitkan. Firman <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> yang berbunyi: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Wa yauma yunfakhu fafazi&#8217;a man fissamawati waman fil ardhi illa man sya Allah</span></em> (Yang bermaksud) <em><span style="color:#0000ff;">Dan pada hari ditiup sangkakala maka terkejut takut semua yang dilangit dan yang dibumi, kecuali yang dikehendaki oleh Allah. </span></em><span style="color:#ff0000;">(Surah Annamel : 87)</span></span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><span style="font-family:Book Antiqua;color:#ff0000;"> </span><span style="font-family:Book Antiqua;">Dan pada saat itu tergoncangnya bumi, dan manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya dan yang meneteki lupa terhadap bayinya, dan anak-anak segera beruban dan syaitan-syaitan laknatullah berlarian. Maka keadaan itu berlaku beberapa lama kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> menyuruh Israfil meniup sangkakala kedua.</span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Firman <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>yang berbunyi: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Wa nufikhafishshuri fasha&#8217;iqa man fissamawati waman fil ardhi illa man sya Allah. Tsumma nufikha fihi ukhra fa idza hum qiyamun yandhurun. </span></em>(Yang bermaksud) <em><span style="color:#0000ff;">Dan ketika ditiup sangkakala maka matilah semua yang dilangit dan bumi kecuali yang dikehendaki Allah, kemudian ditiup lagi, tiba-tiba mereka bangun dan melihat. </span></em><span style="color:#ff0000;">(Surah Azzumar : 68)</span></span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Mereka yang dikecualikan itu ialah roh orang-orang yang mati syahid, Jibrail, Mika&#8217;il, Israfil dan <span style="color:#ff0000;"><em>H</em></span><em><span style="color:#ff0000;">amalatul arsyi </span></em>serta Malaikatmaut, sehingga ketika ditanya oleh <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t</span>: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Siapakah yang masih tinggal dari makhluk</span><span style="color:#0000ff;">Ku</span></em>?&#8221; Padahal <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> lebih mengetahui. Jawab Malaikatmaut: &#8220;Ya Tuhan, <em><span style="color:#0000ff;">Engkau </span></em>yang hidup, yang tidak mati, tinggal malaikat Jibril, Mika&#8217;il, Israfil, <span style="color:#ff0000;"><em>H</em></span><em><span style="color:#ff0000;">amalatul arsyi </span> dan aku.&#8221; </em>Maka <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>menyuruh Malaikatmaut mencabut roh mereka.</span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Riwayat Muhammad bin Ka&#8217;ab dari seorang dari Abu Hurairah r.a. berkata: &#8220;Kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t<em>.</em> </span> berfirman: <span style="color:#ff0000;"><em>&#8220;Harus mati Jibril, Mika&#8217;il, Israfil dan juga Hamalatul arsyi.&#8221; </em></span>Kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.<em> </em></span>bertanya: <em>&#8220;<span style="color:#ff0000;">Hai Malaikulmaut, siapakah yang masih tinggal dari makhluk</span><span style="color:#0000ff;">Ku</span>?&#8221;</em> Jawab Malaikulmaut: &#8220;Engkau Dzat yang hidup yang tidak akan mati, tinggal hambamu yang lemah, Malikulmaut.&#8221; Firman <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span>: <em><span style="color:#ff0000;">&#8221; Hai Malaikulmaut, tidakkah kau mendengar  firman</span><span style="color:#0000ff;">Ku</span><span style="color:#ff0000;">: &#8220;kullu nafsin dza&#8217;iqatul maut. </span></em>(Yang bererti) <em><span style="color:#ff0000;">Tiap makhluk</span><span style="color:#0000ff;">Ku</span><span style="color:#ff0000;">,</span><span style="color:#0000ff;"> Aku </span><span style="color:#ff0000;">jadikan engkau untuk tugasmu itu, dan kini matilah engkau.&#8221;</span></em> Maka matilah Malaikulmaut diperintah mencabut nyawanya sendiri, maka ia sendiri, tiba-tiba ia menjerit, yang andaikata waktu itu makhluk  lain masih hidup nescaya mereka semua akan mati kerana jeritan Malaikulmaut itu, lalu ia berkata: &#8220;Andaikan saya mengetahui bahawa pencabutan roh itu seberat ini nescaya aku akan lebih lunak ketika mencabut roh-roh orang mukmin.&#8221; Kemudian matilah Malaikulmaut dan tiada tinggal satupun dari makhluk <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> Kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.<em> </em></span>berfirman kepada dunia yang rendah ini: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Dimanakah raja-raja dan putera-putera raja, dimanakah raksasa-raksasa dan putera-putera raksasa yang makan rezeki</span><span style="color:#0000ff;">Ku</span><span style="color:#ff0000;"> tetapi menyembah lain</span><span style="color:#0000ff;">Ku</span><span style="color:#ff0000;">.&#8221; </span></em>Kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.<em> </em></span>berfirman: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Limanil mulkil yaum? Lillahilwahidil qahhar.&#8221; </span></em>(Yang bermaksud) <em><span style="color:#ff0000;">Siapakah yang mempunyai hak milik pada hari ini?</span></em>. Pertanyaan ini tidak ada yang menjawab, maka <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.<em> </em></span>sendiri menjawab: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;hanya bagi </span><span style="color:#0000ff;">Allah</span><span style="color:#ff0000;"> yang tunggal dan memaksa segala sesuatu.&#8221;</span></em></span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><em><span style="font-family:Book Antiqua;color:#ff0000;"> </span></em><span style="font-family:Book Antiqua;">Kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> menyuruh langit menurunkan hujan bagaikan air mani lelaki selama empat puluh hari, sehingga air telah mengenang diatas segala sesuatu setinggi hasta, maka<span style="color:#ff0000;"><em> </em></span><span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> menumbuhkan makhluk bagaikan tumbuhnya sayur-sayuran sehingga sempurna kerangka badannya sebagaimana semula dahulu, kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.<em> </em></span>menyuruh (berseru): <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Hiduplah hai Israfil dan Hamalatularsyi.&#8221; </span></em>Maka hiduplah mereka. Lalu <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> menyuruh Israfil meletakkan sangkakala dimulutnya, lalu <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> menyuruh Israfil meniupnya untuk membangkitkan, maka keluarlah roh-roh bagaikan lebah telah memenuhi angkasa antara langit dan bumi, lalu masuklah roh itu kedalam jasad didalam hidung, maka bumi mengeluarkan mereka.</span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> <span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w. </span>bersabda: &#8220;Saya pertama orang yang keluar dari bumi.&#8221; Dalam lain hadis: &#8220;Sesungguhnya <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> jika telah jika telah menghidupkan Malaikat Jibrail, Mika&#8217;il, Israfil, maka mereka pergi kekubur <span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w. </span>membawa buraq dan perhiasan-perhiasan syurga, maka terbuka bumi untuk <span style="color:#0000ff;">Baginda Rasulullah s.a.w.</span> dan ketika melihat Jibril segera bertanya: &#8220;Ya Jibril, bagaimana ummatku? (Apakah yang diperbuat oleh <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>terhadap ummatku?) Jawab Jibril: &#8220;Terimalah khabar gembira, kerana kau pertama yang kuluar dari bumi.&#8221; Kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> menyuruh Israfil meniup sangkakala, tiba-tiba serentak mereka bangkit melihat keadaan. </span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Abu Hurairah r.a meriwayatkan: &#8220;Maka keluarlah mereka dari kubur mereka dalam keadaan telanjang bulat, menuju kepada Tuhan mereka , kemudian berhenti disuatu tempat selama 70 tahun, <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>membiarkan mereka, tidak melihat atau memutuskan keadaan mereka, mereka menangis sehingga habis air mat, dan mengeluarkan darah dan peluh sehingga banjir sampai kemulut, kemusian mereka dipanggil ke Mahsyar, mereka keburu-buruan menuju panggilan itu, maka apabila telah berkumpul semua makhluk, jin, manusia dan lain-lainnya, tiba-tiba terdengar suara yang keras dari langit, maka terbuka langit dunia dan turun daripadanya sepenuh penduduk bumi dari para Malaikat, dan mereka langsung berbaris, lalu bertanya: &#8220;Apakah ada diantara kamu yang membawa perintah Tuhan untuk hidab?&#8221; Dijawab: &#8220;Tidak ada.&#8221; Kemudian turun ahli langit kedua dan berbaris pula, kemudian  turun prnduduk langit ketiga, dan seterusnya sampai langit ketujuh, masing-masing berlipat dari yang sebelumnya dan semua Malaikat itu melindungi penduduk bumi.&#8221; </span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: &#8220;Sesungguhnya <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>akan menyuruh langit dunia maka terbelah dan mengeluarkan semua Malaikat yang ada didalamnya, maka turun semuanya dan mengepung bumi dengan apa yang ada dibumi, kemudian langit kedua dengan isinya, kemudian yang ketiga dengan isinya, kemudian keempat dengan isinya, kemudian kelima dengan isinya, kemudian keenam dengan isinya sehinggalah merupakan tujuh barisan Malaikat, setengahnya dikepung oleh setangahnya, sehingga penduduk jika pergi kemana sahaja mereka mendapati tujuh berisan Malaikat itu seperti mana firman <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span>: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Ya ma&#8217;syaral jinni wal insi inis tatha&#8217; tum an tanfudzu min aqtharissamawati wal ardhi fan fudzu la tanfudzuna illa bisulthan.&#8221; </span></em>(Yang bermaksud) <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Hai para jin dan manusia jika kamu dapat menembus langit dan bumi, maka silakan menembusnya. Dan kamu tidak akan menembusnya kecuali dengan kekuatan.&#8221;</span></em></span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><em><span style="font-family:Book Antiqua;color:#ff0000;"> </span></em><span style="font-family:Book Antiqua;">Firman <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>lagi: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Wayauma tasyaqqaqussama&#8217;u bil ghomami wanuzzilal malaikatu tanzila.&#8221; </span></em>(Yang bermaksud) <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Dan pada hari terbelahnya langit dengan awan, dan diturunkan para Malaikat dengan seketika.&#8221;</span></em></span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;"> <strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Abu Hurairah r.a. berkata: &#8220;</span></strong></span><strong><span style="font-family:Book Antiqua;"><span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w. </span> bersabda: <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>telah berfirman: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Hai para jin dan manusia, aku nasihatkan kepadamu, sesungguhnya yang tercatat dalam lebaran hanya amalmu sendiri, kerana itu siapa yang mendapatkan didalamnya kebaikan, hendaklah mengusapkan : Alhamdulillah dan siapa yang mendapat lain dari itu, maka jangan menyalahkan yang lain kecuali dirinya sendiri. Kemudian </span><span style="color:#0000ff;">Allah </span><span style="color:#ff0000;">menyuruh jahannam, maka keluar daripadanya binatang yang panjang mengkilat gelap lalu berkata-kata. Maka </span><span style="color:#0000ff;">Allah </span><span style="color:#ff0000;">berfirman: &#8220;Alam a&#8217;had ilaikum ya bani Adama alla ta&#8217;budusy syaithana innahu lakum aduwwun mubin. Wa ani&#8217;buduni hadza shiraatum mustaqim. Walaqad a adholla minkum  jibilla katsiera afalam takuni ta&#8217;qilun. Hadzihi jahannamullati kuntum tu&#8217;aduun. Ish lauhal yauma bima kuntum takfurun. </span></em>(Yang bermaksud) <em><span style="color:#ff0000;">Tidak Aku telah berpesan kepadamu: Jangan menyembah syaitan, sesungguhnya ia musuhmu yang nyata-nyata. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus. Dan ia telah menyesatkan ummat-ummat yang banyak dari kamu. Apakah kamu tidak berakal </span></em>(berfikir)<em> <span style="color:#ff0000;">dan menyedarinya. Inilah neraka jahannam yang telah diancamkan </span></em>(Peringatan)<em><span style="color:#ff0000;"> kepadamu. Masuklah kamu kini, oleh sebab kekafiranmu.&#8221;</span></em></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Maka pada saat itu bertekuk lutut tiap-tiap ummat, sebagaimana firman <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span>: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Wa tara kulla ummatin jatsiyatan kullu ummatin tud&#8217;a ila kitabiha.&#8221;</span></em> (Yang bermaksud) <em><span style="color:#ff0000;">Disini kamu melihat tiap-tiap ummat </span></em>(orang)<em><span style="color:#ff0000;"> bertekuk lutut, tiap ummat dipanggil untuk menerima suratan amalnya.&#8221; </span></em>Lalu <em><span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span><span style="color:#ff0000;"> </span></em>memutuskan pada semua makhluk<span style="color:#0000ff;">Nya</span>. Dan antara binatang-binatang buas atau ternak, sehingga kambing-kambing yang tidak bertanduk diberi hak membalas kambing yang bertanduk, kemudian diperintahkan menjadi tanah semua binatang-binatang itu. Dan disaat itu orang kafir berkata: &#8220;Aduh sekiranya aku menjadi tanah.&#8221; Kemudian <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> memutuskan antara semua hamba<span style="color:#0000ff;">Nya</span>.</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Nafi&#8217; dari Ibn Umar r.a. berkata: <span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w. </span>bersabda: &#8220;Manusia akan dibangkitkan kembali kepada Tuhan pada hari kiamat, sebagaimana keadaan mereka ketika dilahirkan dari perut ibunya telanjang bulat. Siti Aisyah berkata: &#8220;Laki perempuan berkumpul ya <span style="color:#0000ff;">Rasullullah</span>? Jawab <span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w.</span>: &#8220;Ya.&#8221; Siti Aisyah berkata: &#8220;Alangkah malunya, kemaluanku dapat dilihat setengah pada setengahnya.&#8221; <span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w. </span>sambil memukul bahu Aisyah bersabda: &#8220;Hai puteri dari putera Abu Quhafah, kesibukan orang-orang pada saat itu tidak memungkinkan akan melihat itu, orang-orang pada mengarahkan pandangan kelangit, berdiri selama empat puluh tahun tidak makan, tidak minum, ada yang berpeluh sampai tumit, sampai betis, sampai perut dan ada sampai mulut, kerana lamanya berhenti, kemudian berdiri para Malaikat mengelilingi arsy, lalu <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> menyuruh menyeruan nama fulan bin fulan, maka semua yang hadir melihat-lihat orangnya, lalu keluar prang itu untuk menghadapi<span style="color:#0000ff;"> Tuhan Rabbul A&#8217;alamin.</span> Dan bila telah melihat Rabbul A&#8217;alamin dipanggil orang-orang yang pernah dianiaya oleh orang itu untuk diberikan dari hasanat kebaikannya kepada orang-orang yang teraniaya itu, kerana pada saat itu tidak ada pembayaran dengan mas, perak (dinar, dirham), maka orang-orang selalu menagih sehingga habis hasanatnya, maka diambilkan dari dosa-dosa orang-orang yang dianiaya itu untuk dipikulkan kepadanya, kemudian jika selesai semua maka diperintahkan: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Kembali ketempatmu dalam neraka hawiyah </span></em>(jahannam) <em><span style="color:#ff0000;">kerana pada hari ini tidak ada dhulum.&#8221;</span></em> (penganiyaan), sesungguhnya <span style="color:#0000ff;">Allah </span>amat segera perhitungan<span style="color:#0000ff;">Nya</span>. Maka pada saat itu tidak ada seorang Malaikat yang muqarrab atau Nabi Rasul melainkan merasa bahawa tidak akan selamat, kecuali jika mendapat perlindungan <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span>&#8220;</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Mu&#8217;adz bin Jabal r.a. berkata: <span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w. </span>bersabda: &#8220;Laa tazulu qadamaa abdin hatta yus&#8217;ala an arba. An umrihi fima afnaahu wa&#8217;an jasadihi fima ablaahu wa&#8217;an ilmihi ma amila bihi wa&#8217;an maalihi min aina iktasabahu wafima anfaqahu. (Yang bermaksud) Tidak dapat bergerak kaki seorang hamba sehingga ditanya tentang empat: Umurnya digunakan apa sampai habis. Dan badannya dalam apa ia rosakkan. Dan ilmunya apa ia pergunakan (apakah diamalkan). Dan hertanya dari mana ia dapat dan kemana ia keluarkan.</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Ikrimah berkata: Seorang ayah akan memegang anaknya pada hari kiamat dan berkata: &#8220;Saya ayahmu ketika didunia.&#8221; Maka anak itu memuji kebaikannya lalu ayah itu berkata: &#8220;Hai anak, kini saya berhajat kepada hasanatmu yang sekecil dzarrah, kalau-kalau saya dapat selamat dengan itu dari apa yang kau lihat ini.&#8221; Jawab anaknya: &#8220;Saya juga takut dari apa yang kau takutkan itu kerana itu tidak dapat memberikan kepadamu sedikitpun.&#8221; Lalu pergi kepada isterinya dan berkata kepadanya: &#8220;saya dahulu suamimu didunia.&#8221; Maka dipuji oleh isterinya, lalu berkata: &#8220;Saya ini minta  kepadamu satu hasanat, kalau-kalau saya boleh selamat dari apa yang kau lihat ini.&#8221; Jawab isterinya: &#8220;saya juga takut dari itu terhadap diriku seperti engkau.&#8221; Sepertimana firman <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> yang berbunyi: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Wain tad&#8217;u muts qalatun ila himliha laa yuhmal minhu syai&#8217;un walaukaana dza qurba.&#8221;</span></em> (Yang bermaksud) <span style="color:#ff0000;"><em>&#8220;Dan orang keberatan pikulannya itu jika memanggil lain orang untuk memikulkan sebahagian tidak akan dipikulkan sedikitpun, meskipun yang dipanggil itu kerabat yang dekat.&#8221;</em></span></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Ibn Mas&#8217;ud berkata: <span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w. </span>bersabda yang berbunyi: &#8220;Innal kafir layul jamu biaroqihi walau ilaannar. (Yang bermaksud) Orang kafir akan tenggelam dalam peluhnya kerana lamanya hari itu sehingga ia berdoa: &#8220;Ya Tuhan, kasihanilah aku, meskipun masuk kedalam neraka.&#8221;</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Book Antiqua;"> Abu Ja&#8217;far meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas r.a. berkata: <span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w. </span>bersabda: &#8220;Tiada seorang nabi melainkan ia mempunyai doa yang mustajab, dan semuanya sudah menggunakan doa itu didunia, sedang saya masih menyimpan doa itu, untuk saya gunakan sebagau syafa&#8217;at bagi ummatku pada hari kiamat. Ingatlah bahawa sayalah yang terkemuka dari semua anak Adam dan itu bukan bangga, dan saya juga yang pertama bangkit dari bumi, juga bukan kerana bangga, dan panji Alhamd ditanganku pada hari kiamat yang dibawahnya ada Adam dan anak cucunya, juga tidak bangga dengan itu. Pada kiamat kesukaran dan kerisauan manusia akan bertambah dahsyat sehingga mereka datang pada Nabi Adam a.s. dan berkta: &#8220;Hai Abulbasyar (Ayah dari semua manusia), berikan syafa&#8217;atmu (bantuanmu) bagi kami dengan minta Tuhan, supaya segera menyelesaikan kami ini. Jawab Adam: &#8220;Itu bukan bagian saya, saya telah diusir keluar dari syurga kerana dosaku, dan kini aku tidak memikirkan sesuatu kecuali diriku sendiri, lebih baik kamu pergi kepada Nuh a.s. kerana ia sebagai Nabi yang pertama. Maka mereka pergi kepada Nuh dan berkata: &#8220;Tolonglah kamu mintakan kepada Tuhan supaya lekas membebaskan kami.&#8221; Jawab Nabi Nuh a.s.: &#8220;Bukan bagianku, saya telah mendoakan penduduk bumi sehingga tenggelam semuanya, dan kini tidak ada yang aku fikirkan kecuali diriku sendiri, tetapi kamu lebih baik pergi kepada Nabi Ibrahim a.s. Khalilullah. Maka  pergilah mereka kepada Nabi Ibrahim a.s. dan berkata: &#8220;Tolonglah kami disisi Tuhan supaya segera memutuskan urusan kami.&#8221; Jawab Nabi Ibrahim a.s: &#8220;Itu bukan urusanku sebab saya telah dusta tiga kali. <span style="color:#0000ff;">Rasulullah s.a.w. </span>bersabda: &#8221; keriga-tiganya itu kerana mempertahankan agama <span style="color:#0000ff;">Allah</span> iaitu ketika ia diajak keupacara kaumnya, lalu ia menyatakan: &#8220;Inni saqiem (Sesungguhnya saya sakit), kali kedua ketika berkata: &#8220;Bal fa&#8217;alahu kabiruhum hadza.&#8221; (Yang bermaksud) &#8220;Bahwa yang merosakkan berhala-berhala ini hanya ini lah yang terbesar dan kali ketiga ketika isterinya akan diganggu oleh Raja yang zalim, lalu ia berkata: &#8220;ini saudaraku.&#8221; kerana itu kini tidak ada sesuatu yang merisaukan hatiku kecuali bagaimana nasibku, tetapi kamu pergi kepada Musa a.s sebagai Kalimullah yang langsung mendengar firman-firman <span style="color:#0000ff;">Allah</span>. Maka mereka langsung pergi kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: &#8220;Tolonglah kami, gunakan syufa&#8217;atmu untuk mengadap Tuhan supaya menyelesaikan urusan kami ini.&#8221; Jawab Nabi Musa a.s.: &#8220;Itu bukan urusanku, saya pernah membunuh orang tanpa hak, dan kini aku tidak memikirkan kecuali nasib diriku, tetapi kamu pergi kepada Nabi Isa a.s. Ruhullah dan Kalimatullah.&#8221; Maka segera mereka pergi kepada Nabi Isa a.s dan berkata: &#8220;Berilah jasa syafa&#8217;atmu. mintalah kepada Tuhan supaya segera meringankan penderitaan kami ini.&#8221; Jawabnya: &#8220;Saya telah diangkat bersama ibuku oleh orang-orang sebagai Tuhan, dan kini tidak ada sesuatu yang merisaukan aku kecuali urusanku sendiri, tetapi bagaimana pendapatmu kalau ada barang terbungkus dan ditutup, apakah dapat mencapai barang itu jika tidak dibuka penutupnya?&#8221; jawab mereka: &#8220;Tidak.&#8217; Maka ia berkata: &#8220;Sesungguhnya <span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad s.a.w. </span>itu penutup dari semua nabi-nabi, dan <span style="color:#0000ff;">Allah</span> telah mengampunkan baginya apa yang lalu dan yang kemudian, lebih baik kamu pergi kepadanya.Maka datanglah orang-orang itu kepadaku, lalu saya jawab kepada mereka: &#8220;Baiklah, sayalah yang akan membantu sehingga <span style="color:#0000ff;">Allah </span>mengizinkan bagi siapa yang dikehendakinya dan diredhainya, maka tinggal sekehendak <span style="color:#0000ff;">Allah</span>.&#8221; Kemudian bila <span style="color:#0000ff;">Allah </span>hendak menyelesaikan makhluk<span style="color:#0000ff;">Nya</span>, maka ada seruan: &#8220;Dimanakah <span style="color:#0000ff;"> Muhammad</span> dan ummat-ummatnya?&#8221; Maka kamilah yang terakhir didunia, dan yang pertama-tama hisabnya pada hari kiamat. Lalu aku berdiri bersama ummat-ummatku, maka ummat-ummat itu membukakan jalan untuk kami, sehingga ada suara, hampir saja ummat ini semuanya merupakan nabi-nabi, kemudian aku maju kepintu syurga dan mengetukmnya, lalu ditanya: &#8220;Siapakah itu?&#8221; Jawabku: &#8220;<span style="color:#0000ff;">Nabi Muhammad Rasullullah.</span>&#8221; Lalu dibukakan dan segera aku masuk dan bersujud kepada Tuhan serta memuja muji kepada Tuhan dengan pujian yang belum pernah diucapkan oleh seorang pun sebelumku, kemudian aku diperintah: <em><span style="color:#ff0000;">Irfa&#8217; ra&#8217;saka wa qul yusina&#8217; wasai tu&#8217;tha, wasy fa tusyaffa.&#8221; </span></em>(Yang bermaksud)<em><span style="color:#ff0000;"> Angkatlah kepalamu, dan katakan akan didengar, dan mintalah akan diberikan syafa&#8217;atmu akan diterima.&#8221;</span></em>. Maka saya memberikan syafa&#8217;atku pada orang-orang yang didalam hatinya ada seberat semut (dzarrah) atau jagung dari iman keyakinan disamping syahadat an la ilaha illallah wa anna <span style="color:#0000ff;">Muhammad Rasulullah</span>.&#8221;</span></strong></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Umar bin Alkhoththob r.a. ketika masuk kemasjid bertemu dengan Ka&#8217;bul Ahbar sedang memberikan nasihat pada orang ramai, maka Umar berkata kepadanya: &#8220;Berilah kami nasihat dan cerita-cerita yang dapat menambahkan takut kepada <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span>&#8221; Maka Ka&#8217;bul Ahbar berkata: &#8220;Sesungguhnya ada Malaikat-malaikat yang dijadikan oleh <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> berdiri tegak tidak pernah membongkokkan punggung mereka, dan yang lain sujud tidak pernah mengangkat kepalanya sehingga ditiup sangkakala, dan mereka bertasbih: <em><span style="color:#ff0000;">Subhanakallahumma wabihamdika ma abadnaaka haqqa ibadatia wa haqqa ma yanbaghi laka an tu&#8217;bada.</span></em> (Yang bermaksud) <em>Maha suci <span style="color:#0000ff;">Engkau</span> ya <span style="color:#0000ff;">Allah</span> dan segala puji bagi<span style="color:#0000ff;">Mu</span>, kami tidak dapat beribadat kepada<span style="color:#0000ff;">Mu</span> sepenuh ibadat yang layak kepada<span style="color:#0000ff;">Mu</span>, yang layak bagi<span style="color:#0000ff;">Mu</span> untuk disembah.</em></strong></span> <span style="font-family:Book Antiqua;"><strong>Demi Allah yang jiwaku ada ditangannya, neraka jahannam akan diperdekatkan pada hari kiamat lalu bergemuruh dan bila telah dekat ia bergemuruh dengan satu suara  dan disaat itu tidak ada seorang nabi atau orang yang mati syahid melainkan ia bertekuk lutut jatuh, maka tiap nabi, syahid atau siddiq hanya berdoa: &#8220;Ya Allah, saya tidak minta kecuali keselamatan diriku sehingga nabi Ibrahim lupa pada Ismail dan Ishak sambil berkata: &#8220;Ya Tuhan, aku khalilullah Ibrahim, dan pada saat itu andaikan engkau, hai putera Khoththob mempunyai seperti amal tujuh puluh nabi, nescaya kau mengira bahawa dirimu tidak akan selamat.&#8221; Maka menangislah semua yang hadir. </strong></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Ketika Umar melihat keadaan itu, lalu Umar berkata: &#8220;Hai Ka&#8217;ab, berikan kepada kami khabar yang menggembirakan.&#8221; Maka berkata Ka&#8217;ab: Sesungguhnya bagi Allah s.w.t. ada 313 syari&#8217;ah, tidak seorang yang menghadap kepada Allah s.w.t. dengan salah satu syari&#8217;at itu asal disertai dengan Khalimah <span style="color:#ff0000;"><em>laa ilaha illallah </em></span>melainkan pasti dimasukkan oleh Allah s.w.t kedalam syurga demi Allah, andaikan kamu tahu besarnya rahmat Allah s.w.t., nescaya kamu malas beramal. Hai saudara-saudara, bersiap-siaplah menghadapi hari kiamat itu dengan amal yang soleh, dan menjauhi ma&#8217;siyat sebab tidal lama kau akan menghadapi kiamat dan menyesal tihadap masa hidupmu yang terbuang sia-sia, ketahuilah bahawa bila kau mati bererti telah tiba hari kaimatmu, sebagaimana kata Almughirah bin Syu&#8217;bah: &#8220;Kamu menantikan hari kiamat, padahal kiamatmu ialah saat kematianmu.&#8221;</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Alqomah bin Qays ketika hadir janazah lalu ia berdiri diatas kubur dan berkata: &#8220;Adapun hamba ini maka telah tiba kiamatnya, sebab seorang mati maka melihat segala persoalan hari  kiamat, iaitu syurga, neraka dan Malaikat, dan ia tidak dapat berbuat suatu amal, maka ia bagaikan seorang yang berada pada hari kiamat, dan ia akan bangkit pada hari kiamat menurut keadaannya disaat matinya, maka sesungguhnya untung siapa yang penghabisan amalnya kebaikan.&#8221;</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Abu Bakar Alwaasithi berkata: Keuntungan yang besar itu dalam tiga perkara iaitu hidup, mati dan kiamat. Adapun keuntungan hidup iaitu bila digunakan dalam taat kepada <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t</span>, dan keuntungan mati bila ia mati dalam khalimat Syahadat iaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Laailaha illallah</em></span> dan keuntungan hari kiamat bila bangkit dari kubur disambut dengan berita bahawa syurga tersedia untuknya.&#8221;</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Yahya bin Mu&#8217;adz Arrazi ketika dibacakan dimajlisnya ayat yang berbunyi: <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Yauma nahsyurul muttqina ilarrahmani. Wa nasuqul mujrimina ila jahannama wirda.&#8221; </span></em>(Yang bermaksud) <em><span style="color:#ff0000;">&#8220;Pada hari kiamat itu </span><span style="color:#0000ff;">Kami </span><span style="color:#ff0000;">akan menghantar orang yang taqwa menghadap</span><span style="color:#0000ff;"> Arahman</span><span style="color:#ff0000;"> (</span><span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span><span style="color:#ff0000;">) berkenderaan, sedang orang-orang yang durhaka </span><span style="color:#0000ff;">Kami</span><span style="color:#ff0000;"> iring keneraka berjalan kaki dan merasa haus.&#8221;</span></em></strong></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Lalu ia berkata: &#8220;Tenang-tenanglah hai manusia, kamu kelak akan dihadapkan kepada <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t.</span> berduyun-duyun, dan menghadap pada <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>satu persatu, dan akan ditanya semua amalmu secara terperinci kalimat demi kalimat, sedang para wali dihantar menghdap pada<span style="color:#0000ff;"> Allah s.w.t.</span> berkenderaan, dan orang-orang yang durhaka didorong keneraka jahannam berbondong-bondong, dan semua akan terjadi bila bumi telah dilenyapkan, dan tiba Tuhanmu sedang Malaikat berbaris-baris, dan dihidangkan jahannam sebagai ancaman. Saudara-saudaraku, berhati-hatilah kamu dari kengerian sehari yang perkiraannya sama dengan lima puluh ribu tahun (didunia), hari yang mengetarkan, duka cita dan menyesal., itulah hari yang besar, hari bangkitnya semua manusia untuk menghadap kepada <span style="color:#0000ff;">Rabbul Alamien</span>, hari perhitungan dan pertimbangan dan pertanyaan, hari kegoncangan, yang pasti, yang menakutkan, hari kebangkitan, hari dimana tiap manusia akan melihat apa yang telah dilakukannya. Hari dimana semua manusia dalam berbagai bentuk akan melihat amal perbuatannya, hari dimana wajah manusia putih berseri-seri dan lain wajah hitam, hari dimana seseorang tidak dapat menolong kerana lainnya, dan tidak berguna segala tipu daya, hari dimana seorang ayah tidak dapat membantu anaknya sedikit pun, hari dimana bahayanya bertebaran meluas, hari dimana tidak diterima uzur orang-orang yang zalim dan tetap mereka mendapat kutukan (laknat) serta siksa yang keji, pada hari dimana tiap manusia harus mempertahankan dirinya sendiri, pada hari dimana tiap ibu akan lalai terhadap bayi yang disusuinya, bahkan tiap ibu yang mengandung akan menggugurkan kandungannya dan orang-orang bagaikan orang mabuk tetapi tidak mabuk kerana minum arak, hanya kerana ngerinya siksaan<span style="color:#0000ff;"> Allah s.w.t.</span> yang sangat keras.&#8221;</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;"><strong> Muqatil bin Sulaiman berkata: &#8220;Makhluk akan berdiri menanti pada hari kiamat selama seratus tahun, tenggelam dalam peluhnya sendiri dan seratus tahun dalam kegelapan mereka bingung sedang seratus tahun lagi sibuk bagaikan gelombang mengajukan tuntutan kepada Tuhan. Sesungguhnya hari kiamat itu sekira lima ribu tahun, tetapi bagi seorang mukmin yang ikhlas bagaikan sesaat, kerana itu wahai orang yang sihat akal hendaklah sabar terhadap penderitaan dunia dalam melaksanakan taat kepada <span style="color:#0000ff;">Allah s.w.t. </span>untuk memudahkan bagimu segala kesukaran-kesukaran hari kiamat.&#8221;</strong></span></p>
<p><img src="http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/linebunga.gif" border="0" alt="" width="448" height="23" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=10&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/kedahsyatan-dan-kengerian-hari-kiamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/linebunga.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/linebunga.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Anak Durhaka Dikutuk Jadi Anjing dan Ular</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/anak-durhaka-dikutuk-jadi-anjing-dan-ular/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/anak-durhaka-dikutuk-jadi-anjing-dan-ular/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 07:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/anak-durhaka-dikutuk-jadi-anjing-dan-ular/</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 26 Januari 2010 Menakjubkan, Anak Durhaka Dikutuk Jadi Anjing dan Ular Sungguh menakjubkan kisah yang satu ini. Kisah ini saya kutip langsung dari salah satu media Harian di Sumatra. Anak yang tinggal di desa kecil yang bernama Sigambal, Desa Pinang Awan, Kecamatan Torgamba, Labuhan Batu Selatan berubah wujud menjadi seekor Anjing dan Ular saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=9&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="datebar">
<div id="datebarleft">
<h2>Selasa, 26 Januari 2010</h2>
</div>
</div>
<p><a name="4153917152790965808"></a></p>
<h3><a href="http://www.akhatam.com/2010/01/menakjubkan-anak-durhaka-dikutuk-jadi.html">Menakjubkan, Anak Durhaka Dikutuk Jadi Anjing dan Ular</a></h3>
<div><!-- .fullpost{display:inline;} -->Sungguh menakjubkan kisah yang satu ini. Kisah ini saya kutip langsung dari salah satu media Harian di Sumatra.</p>
<div>Anak yang tinggal di desa kecil yang bernama Sigambal, Desa Pinang Awan, Kecamatan Torgamba, Labuhan Batu Selatan berubah wujud menjadi seekor Anjing dan Ular saat dia menendang kepala ibunya saat Sedang Solat Maghrib.</p>
<p>Kisah ini membuat warga sekitar malu dan terlihat disembunyikan karena Warga merasa takut kena kutuk. Tapi, menurut warga anak tersebut telah diboyong oleh seseorang ke Medan, karena tak tahan menanggung malu, karena setiap hari ratusan warga dari berbagai daerah berdatangan ingin melihat kejadian itu.</p>
<p>Dan fakta dari warga sekitar karena malu dan takut kena kutuk oleh anak tersebut, salah seorang warga yang minta namanya tak ditulis memberikan bukti sebuah rekaman vidio dari sebuah handphone yang memuat wujud gadis tersebut, yang berhasil ia rekam pasca kejadian itu. Dalam rekaman tersebut, yang terlihat anak tersebut berbentuk Anjing untuk kepalanya, sedangkan tubuhnya berbentuk Ular, Subhanalloh.. Dan kedua tangannya menyerupai biawak</p>
<p>Kisah anak kelas 2 SMP tersebut, bermula yang ingin meminta sepeda motor Matic Mio kepada ibunya, tetapi ibunya tak membelikannya, mungkin kondisi ekonomi ibunya yang Kekurangan dan Pas-pasan. Kemudian Anak tersebut marah kepada ibunya tersebut, dan menendang kepala ibunya tersebut pada saat ibunya melaksanakan Solat Maghrib.</p>
<p>Kemudian yang saya kutip lagi dari <em>Hariansumutpos.com</em>, Kontan saja ibunya menjerit histeris dan menangis meraung-raung melihat anak kesayangannya itu telah berubah wujud. Kapolsek Torgamba, AKP Tampubolon ketika dikonfirmasi mengaku, tak ada terjadi yang aneh-aneh di wilayah hukumnya</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=9&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/anak-durhaka-dikutuk-jadi-anjing-dan-ular/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Legenda Batu Gantung</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/legenda-batu-gantung/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/legenda-batu-gantung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 07:45:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Legenda Batu Gantung-Parapat 20 Mei 2009 jam 23:14 Batu gantung Parapat Parapat atau Prapat adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba ini merupakan tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota ini memiliki keindahan alam yang sangat mempesona [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=7&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>Legenda Batu Gantung-Parapat</div>
<div><a title="Kirim ini ke teman atau ke profil Anda." rel="dialog" href="http://www.facebook.com/ajax/share_dialog.php?s=4&amp;appid=2347471856&amp;p[]=66492184320&amp;p[]=106825388367"><br />
</a></div>
</div>
<div>20 Mei 2009 jam 23:14</div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=1655466&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=106825388367&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=106825388367&amp;id=66492184320"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs117.snc1/4722_94666514320_66492184320_1655466_4707131_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Batu gantung Parapat</div>
</div>
<p>Parapat atau Prapat adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba ini merupakan tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota ini memiliki keindahan alam yang sangat mempesona dan didukung oleh akses jalan transportasi yang bagus, sehingga mudah untuk dijangkau.</p>
<p>Kota ini sering digunakan sebagai tempat singgah oleh para wisatawan yang melintas di Jalan Raya Lintas Sumatera (Jalinsum) bagian barat yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Padang. Selain sebagai objek wisata yang eksotis, Parapat juga merupakan sebuah kota yang melegenda di kalangan masyarakat di Sumatera Utara. Dahulu, kota kecil ini merupakan sebuah pekan yang terletak di tepi Danau Toba. Setelah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan, tempat itu oleh masyarakat diberi nama Parapat atau Prapat.</p>
<p>Dalam peristiwa itu, muncul sebuah batu yang menyerupai manusia yang berada di tepi Danau Toba. Menurut masyarakat setempat, batu itu merupakan penjelmaan seorang gadis cantik bernama Seruni. Peristiwa apa sebenarnya yang pernah terjadi di pinggiran kota kecil itu? Kenapa gadis cantik itu menjelma menjadi batu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Gantung berikut ini!.</p>
<p>Alkisah,di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupikebutuhan sehari-hari.</p>
<p>Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba.</p>
<p>Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.</p>
<p>Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.</p>
<p>“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni. Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu.</p>
<p>Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong. Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosokke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.</p>
<p>“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.</p>
<p>Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.</p>
<p>“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.</p>
<p>Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat. “Parapat! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..</p>
<p>Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan. Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.</p>
<p>“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.</p>
<p>“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.</p>
<p>“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.</p>
<p>“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.</p>
<p>“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.</p>
<p>“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.</p>
<p>“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah. Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.</p>
<p>Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”</p>
<p>“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.</p>
<p>“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.</p>
<p>“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.</p>
<p>“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.</p>
<p>Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.</p>
<p>“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.</p>
<p>“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.</p>
<p>Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.</p>
<p>“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”</p>
<p>“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.</p>
<p>Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutas tampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.</p>
<p>“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.</p>
<p>“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.</p>
<p>“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.</p>
<p>“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.</p>
<p>“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.</p>
<p>Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.</p>
<p>Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batu cadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”.</p>
<p>Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Demikian cerita tentang asal-usul nama kota prapat. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat putus asa atau lemah semangat. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Seruni yang hendak mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam, namunia justru terperosok ke dalam lubang batu dan menghimpitnya hingga akhirnya meninggal dunia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=7&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/legenda-batu-gantung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs117.snc1/4722_94666514320_66492184320_1655466_4707131_a.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>my profil</title>
		<link>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/my-profil/</link>
		<comments>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/my-profil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 07:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>davidleonardopanjaitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[nama               : david leonardo panjaitan alamat            : jl.D.I Panjaitan Kompleks Aek Ristop ttl                     : Bekasi, 3o September 1994 asal sekolah : SMP Santa Maria tarutung hobby             : bermain sepak bola<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=3&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://davidleonardopanjaitan.files.wordpress.com/2010/02/david-24.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-4" title="David (24)" src="http://davidleonardopanjaitan.files.wordpress.com/2010/02/david-24.jpg?w=300&#038;h=294" alt="" width="300" height="294" /></a>nama               : david leonardo panjaitan</p>
<p>alamat            : jl.D.I Panjaitan Kompleks Aek Ristop</p>
<p style="text-align:left;">ttl                     : Bekasi, 3o September 1994</p>
<p style="text-align:left;">asal sekolah : SMP Santa Maria tarutung</p>
<p style="text-align:left;">hobby             : bermain sepak bola</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/davidleonardopanjaitan.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=davidleonardopanjaitan.wordpress.com&amp;blog=12214985&amp;post=3&amp;subd=davidleonardopanjaitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://davidleonardopanjaitan.wordpress.com/2010/02/24/my-profil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd96e5e00f535c457e278c70ddceca05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">davidleonardopanjaitan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://davidleonardopanjaitan.files.wordpress.com/2010/02/david-24.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">David (24)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
